Selasa, 12 Agustus 2008

Kapal Ramah Lingkungan

Akhir - akhir ini paling banyak terdengar mengenai krisis energy yang membanyangi beberapa media pemberitaan di tanah air. Sebenarnya energy alternatif telah dikembangkan cukukp lama oleh nenek moyang kita. Contohnya dalam bidang perkapalan, nenek moyang kita telah memberikan contoh penggunaan layar sebagai sumber energi penggerak kapal. Namun penggunaan layar mulai ditinggalkan oleh para pelaut kita, termasuk pelaut tradisional, dan semakin menggantungkan pada mesin untuk penggerak kapal.
Berbagai alasan layar ditinggalkan oleh pelaut kita, mulai dari alasan bahwa layar susah dikendalikan, mengurangi daya angkut kapal, kurang praktis dan sebagainya. Tetapi tanpa disadari penggunaan mesin untuk penggerak kapal akan membuat kita semakin tergantung pada bahan bakar yang berbasis fosil.
Harusnya kita mulai memikirkan kembali penggunaan layar sebagai penggerak kapal disamping mesin yang ada selama ini. Tapi kesemuanya itu tergantung kepada kita, apakah kita makin terpuruk dengan ketergantungan terhadap energi yang berbasis fosil atau tidak.
Tetapi jika kita pergunakan layar sebagai penggerak kapal, minimal kita telah membantu mengurangi efek global warming selain itu juga ramah lingkungan.

Dilematis Nelayan Indonesia

Nelayan kita akhir – akhir ini ibarat sudah jatuh ketimpa tangga, itulah kata pepatah yang tepat untuk komunitas nelayan di negara kita. Betapa tidak, harga bahan bakar sudah naik ditambah lagi dengan kelangkaan persediaan bahan bakar itu sendiri akibat ulah oknum spekulan. Untuk penyaluran bahan bakar bagi khusus nelayan sudah dapat dibilang tepat sasaran karena pemerintah beberapa tahun lalu telah membangun sejumlah SPBU khusus nelayan. Ini hanya efektif pada penyaluran tetapi tidak bisa menekan pemakaian bahan bakar pada kapal ikan tradisional.

Meskipun telah ditempuh oleh beberapa nelayan yang bilang cukup nekat, yaitu dengan mengoplos bahan bakar minyak tanah dengan minyak pelumas bekas, untuk menggantikan solar. Secara ekonomi memang cukup menjanjikan tetapi secara teknis akan merusak mesin kapal. Karena pengubahan bahan bakar (viskositas, nilai kalor, dll) tidak dibarengi dengan setup pada engine itu sendiri.

Kapal ikan saat ini yang dioperasikan oleh nelayan dinegara kita terutama nelayan tradisional bisa dikatakan belum efisien terhadap pemakaian bahan bakar, hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor,

  1. Faktor bentuk lambung.

Bentuk lambung kapal ikan tradisional dibangun dengan cara turun temurun. Dan umumnya setiap daerah mempunyai karakter tersendiri, misalnya bentuk lambung Daerah Batang berbeda dengan bentuk lambung dari Daerah Rembang dan sebagainya. Tetapi dalam pembuatannya tidak terlalu memperhatikan faktor hidrodinamis aliran fluida yang terjadi disekitar lambung kapal. Bentuk lambung ini sangat berpengaruh terhadap beberapa aspek dalam design sebuah kapal. Misalnya aspek keselamatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kapal ikan tradisional pada konsidi laut dengan gelombang mencapai ketinggian sekitar 2 sampai 3 meter, presentase kapal tersebut pulang dengan selamat adalah sekitar 11%.

  1. Keserasian antara mesin dan propeller.

Faktor ini juga kebanyakan saat ini masih menggunakan referensi secara turun temurun, kebiasaan atau berdasarkan referensi dari penjual mesin, gearbox maupun propeller. Dan tidak berdasarkan atas beberapa perhitungan sama sekali. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada kapal ikan tradisional pada tipe batang, jika efisiensi keserasian antara propeller dan mesin (propeller engine matching) pada kapal tradisional ditingkatkan maka dapat menekan tingkat pemakaian bahan bakar sampai 10 sampai 15 %. Selain itu juga dipengaruhi oleh bentuk propeller yang kurang standar dalam pembuatan. Umumnya blade profil propeller yang dipasang pada kapal ikan tradisional, tidak berbentuk foil seperti yang disyaratkan. Bahkan beberapa propeller yang dipasang mempunyai bentuk blade foil yang simetris, bahkan ada yang berupa plat.

Tetapi secara akademik sebenarnya kelangkaan dan naiknya bahan bakar tidak menjadi persoalan yang cukup krusial dalam pengoperasian kapal ikan, akan tetapi akan membuat kita lebih kreatif dalam memanfaatkan energi terbarukan.

Pada awalnya kapal ikan tradisional telah menggunakan energi terbarukan yaitu tenaga angin dengan media layar. Tetapi seiring dengan hadirnya mesin – mesin diesel yang lebih kompak dan lebih praktis, penggunaan layar sebagai tenaga penggerak kapal mulai ditinggalkan oleh para nelayan kita. Tanpa disadari penggunaan mesin – mesin diesel tersebut telah membuat ketergantungan nelayan akan bahan bakar fosil semakin tinggi.

Satu lagi faktor yang cukup berpengaruh dikalangan nelayan, yaitu kultur dan tradisi. Faktor ini sangat cukup dominan, misalnya jika nelayan menggunakan kapal yang bukan, kapal yang dipakai secara tradisi atau turun temurun, mereka tidak mau menggunakannya, meskipun kapal baru tersebut lebih efisien dalam pengunaan bahan bakar. Atau dengan kata lain komunitas nelayan kita kurang mengadopsi teknologi pembuatan kapal secara modern. Tetapi mungkin dengan meroketnya harga minyak bumi, kemungkinan faktor ini akan hilang dengan sendirinya.

Jumat, 08 Agustus 2008

Marine Renewable Energy (UNDIP-Concept)

Konsep yang ditawarkan disini adalah cukup sederhana yaitu dalah dengan mengubah atau mengekstrak tenaga gelombang menjadi tenaga listrik secara langsung, tanpa peralatan atau media penghubung. Peralatan ini terdiri dari dua bagian yang saling terintegrasi satu sama lain. Peralatan yang pertama adalah berupa buoy dan yang lainnya berupa linear generator.
Buoy akan mengubah tenaga gelombang menjadi gerakan turun naik, yang selanjutnya akan gerakan tersebut akan dirubah secara langsung menjadi energi listrik dengan linear generator.